Para Capres Berebut Simpati

Jakarta, Kompas – Akhir pekan, Sabtu (21/3), benar-benar dimanfaatkan oleh para calon presiden untuk berkampanye bersama partai politiknya di sejumlah daerah. Masing-masing capres mencoba menawarkan program maupun janji-janji kepada rakyat untuk kehidupan yang lebih baik.

Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono, didampingi istrinya, Ani Herawati, dan putra bungsunya, Edhie Baskoro, berkampanye di Denpasar, Bali, Sabtu, dan Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu. Yudhoyono kembali memaparkan kesuksesan pemerintah dan sejumlah pekerjaan rumah yang perlu dilanjutkan lima tahun mendatang.

Pada Pemilu 2004, Bali dikuasai Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dan Sulsel dikuasai Partai Golkar.

Saat berkampanye di depan massa yang berkumpul di Lapangan Padang Galak, Denpasar, Yudhoyono menegaskan komitmennya untuk menjaga keamanan dan kenyamanan di Bali sebagai kawasan turisme dunia dengan nilai-nilai budaya yang harus dipertahankan. ”Jangan biarkan seorang pun mengganggu ketenangan di Bali. Siapa pun dia, harus kita lawan,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Partai Golkar yang juga Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla berkampanye di Lapangan Bumi Sriwijaya di Jalan Angkatan 45, Palembang, Sumatera Selatan. Ia mengklaim partainya berpengalaman selama 45 tahun membawa kemajuan bagi bangsa ini. ”Tetaplah memilih Partai Golkar,” kata Kalla.

Kalla juga berkampanye di Lapangan Karebosi, Makassar, Sulawesi Selatan, Sabtu pagi.

Panitia kampanye Partai Golkar juga ikut membagi-bagikan cendera mata, seperti gantungan telepon seluler dan kunci, yang dilemparkan dari atas panggung sehingga massa berebut di bawah panggung.

Mega-Sultan

Di Bantul, DI Yogyakarta, Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri mengingatkan intelijen untuk tidak main-main menjelang Pemilu 2009. Jangan ada lagi gerakan-gerakan seperti waktu-waktu lalu.

”Masak sakmene akehe (sebanyak ini) orang, takut sama satu orang,” kata Megawati di hadapan kader PDI-P di Graha Purbabuwana, Kecamatan Jetis, Kabupaten Bantul.

Malam harinya, Megawati bertemu dengan capres dari Partai Republikan, Sultan Hamengku Buwono X, di Vila Cangkringan, Sleman. Namun, pertemuan itu berlangsung tertutup. Wartawan sempat ditahan di pintu gerbang hotel bergaya resor itu. Bahkan, wartawan foto yang sudah lebih dulu tiba di Vila Cangkringan diminta keluar dari area vila.

Sekitar 40 menit kemudian, wartawan diperbolehkan masuk ke area vila, tetapi dilarang mendekati pintu ruangan tempat berlangsungnya pertemuan. Menurut sumber Kompas, pertemuan tersebut antara lain membahas kemungkinan manipulasi daftar pemilih tetap.

Berdasarkan catatan Kompas, Megawati dan Sultan pernah beberapa kali bertemu. Pertemuan itu di antaranya berlangsung di rumah Megawati, Jalan Teuku Umar, Jakarta, dan Keraton Yogyakarta.

Di Serang, Banten, Ketua Umum Partai Hati Nurani Rakyat Wiranto kembali mengingatkan agar masyarakat tidak gampang tergoda janji politik yang bisa melenakan. Itu sebabnya, pada saat pemungutan suara pemilu legislatif nanti, masyarakat diminta menggunakan hati nurani dalam menentukan pilihan.

”Jangan sampai pilihan selama lima detik, tetapi disesali selama lima tahun kemudian,” ujar Wiranto saat kampanye terbuka di Alun-alun Kota Serang, Sabtu.

Menurut Wiranto, bangsa Indonesia memiliki kekayaan alam yang melimpah. Namun, kekayaan alam yang direbut dengan darah dan air mata para pendiri bangsa ini ternyata belum mampu dinikmati anak negeri.

”Warisan yang ada belum dimanfaatkan dengan baik. Masih banyak rakyat Indonesia yang tidak sejahtera, bahkan sengsara,” ujarnya.

Di Subang, Jawa Barat, Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa Muhaimin Iskandar berjanji, PKB akan memperjuangkan pembangunan berbasis pada kekayaan alam, modal alam yang diamanatkan Tuhan. ”PKB akan memulai pembangunan dari desa, bukan dari kota, untuk memakmurkan desa-desa,” kata Muhaimin ketika berorasi dalam kampanye PKB di Lapangan Gambarsari, Kecamatan Pagaden, Subang.

Di Bandung, PKB memilih berkampanye keliling di samping kampanye terbuka.

Di Bangkalan, Jawa Timur, Ketua Umum Partai Amanat Nasional Soetrisno Bachir melemparkan kritik pedas. Menurut dia, Indonesia saat ini membutuhkan pemimpin yang merakyat yang tidak ”jaim” atau jaga image.

”Pemimpin yang merakyat itu bersikap melayani dan tidak minta dilayani,” kata Soetrisno dalam silaturahim dengan ulama dan warga Kabupaten Bangkalan.

Selain kampanye para capres dengan masing-masing parpol, parpol lain juga berkampanye dengan berbagai cara.

Di Semarang, Jawa Tengah, Partai Keadilan Sejahtera berkampanye dengan mengenalkan kertas suara yang mirip dengan surat suara resmi. ”Sekarang jumlah caleg banyak sekali. Kami memahami kesulitan pemilih yang tidak mengenal caleg yang akan mewakili mereka,” ujar Ketua Dewan Perwakilan Wilayah PKS Jateng Arif Awaludin.

Di Jakarta, Partai Gerakan Indonesia Raya mengumpulkan massa di Gelanggang Olahraga Sunter, Jakarta Utara.

Di Palembang, Sumatera Selatan, Jusuf Kalla dan Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan Suryadharma Ali tanpa sengaja bertemu di Palembang, Sabtu siang. Keduanya berkomitmen merapatkan barisan dalam bentuk Golden Triangle bersama PDI-P.

Di Surabaya, Partai Matahari Bangsa mengisi kampanye terbuka dengan konvoi lima kendaraan berisi para caleg mereka. (inu/idr/luk/nawa/dee/ mhf/hei/oni/mam/ row/eny/uti/har/tra/osa)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: