Terminal Petikemas Koja (TPK KOJA): Mutiara yang Tenggelam (Bagian 1)

Terminal Petikemas Koja (TPK KOJA): Mutiara yang Tenggelam (Bagian 1)

Membicarakan Terminal Petikemas Koja (TPK Koja) tidak bisa terlepas dari proses privatisasi atas PT. Jakarta International Container Terminal (PT JICT) yang terjadi pada tahun 1999. Seperti diketahui bersama bahwa proses privatisasi tersebut sarat nuansa korupsi yang melibatkan banyak petinggi negara saat itu. Setelah ditunda-tunda dan sempat dua tahun dihentikan penyidikannya oleh Kejaksaan, akhirnya Timtas Tipikor (Tim Pemeberantasan Tindak Pidana Korupsi) Nasional saat itu mengumumkan nama-nama tersangka koruptor yang bertanggung jawab atas korupsi pada privatisasi 51% saham PT. JICT kepada Grossbeak Pte.Ltd (Hutchison Whampoa group). Sederet nama-nama besar yang terlibat muncul seperti Herwidayatmo (mantan Ketua Bapepam dan saat itu Deputi Meneg BUMN bidang Privatisasi), Tanri Abeng (saat itu Menteri BUMN), dan Bambang Subianto (saat itu Menteri Keuangan) serta beberapa pejabat PT.Pelindo II, salah satunya adalah Herman Prayitno (saat itu Dirut PT. Pelindo II).

Diam-diam, dari semua cerita sedih dan tragis negeri ini, akibat privatisasi khususnya privatisasi Terminal Petikemas Tanjung Priok, ada sepotong mimpi indah anak-anak negeri ini yang terkubur oleh buruknya perilaku privatisasi para pejabat di negeri ini. Bagai sebuah sinetron rapshody anak muda, munculah kisah Terminal Petikemas Koja dengan haru birunya, Terminal yang dicita-citakan menjadi the most modern container terminal di Indonesia mengalami derita panjang, lahir sungsang dan tumbuh dewasa dalam keterbatasan dan pupusnya kebanggaan serta harapan.

Mungkin saat ini tidak banyak lagi pejabat di Pemerintahan bahkan publik yang ingat bahkan peduli dengan perusahaan yang bernama Kerjasama Operasional Terminal Petikemas Koja (KSO TPK Koja), apalagi apabila dibandingkan dengan perusahaan sejenis yang ada disebelahnya yaitu Jakarta International Container Terminal (PT.JICT). Padahal sekitar tahun 1997, KSO TPK Koja pernah disebut-sebut sebagai Boomings Port untuk Asia Tenggara, mengingat berbagai fasilitas yang serba newest generation pada waktu itu. Kenapa KSO TPK Koja tidak lagi bersinar seperti ketika pertama dilahirkan?

Pasalnya, direncanakan atau tidak berbagai upaya pengkerdilan KSO TPK Koja terus dilakukan baik dari sisi marketing communication ke publik maupun penyempitan lahan baik karena disewakan oleh PT. Pelindo II kepada PT Graha Segara(depo petikemas) dan PT Aneka Kimia Raya untuk Instalasi Tanki Penyimpanan Bahan Bakar cair. Dan yang lebih menggenaskan lagi ada pengalihan lahan untuk perluasan Container Yard PT. JICT ke arah area TPK Koja.

Secara marketing, TPK Koja bersama JICT dikenalkan ke tingkat publik pelayaran internasional dengan nama JCP (Jakarta Container Port). Istilah JCP adalah istilah marketing yang dibuat PT. Ocean Terminal Petikemas (sekarang telah berubah nama menjadi PT. Hutchison Port Indonesia/HPI), sebagai pemilik dari 48% saham KSO TPK Koja sekaligus pemilik 51% saham PT. JICT. Lalu siapa ‘owner’ JCP yang dikenal publik? Tidak lain dan tidak bukan, yaitu PT. HPI sebagai representatasi dari Hutchison Port Holding (member of Hutchison Whampoa group) di Indonesia.

Perluasan PT. JICT dilakukan, dengan nama ‘penyambungan’ dermaga maupun rencana ‘penyatuan’ gate maupun yard (lapangan penumpukan) demi alasan kemudahan Transhipment. Dalam 2 (dua) tahun ke depan PT JICT akan melakukan ekspansi dengan investasi sebesar 166 juta US$. Dengan modal sebesar itu JICT telah membeli 2 (dua) QCC Super Post Panamax Twin lift yang pengoperasiaannya telah diresmikan oleh Menteri Perhubungan pada 30 Januari 2009 yang lalu. Menyusul kehadiran QCC crane telah datang juga 6(enam) RTG crane dan saat ini sedang dilaksanakan pembangunan Container Yard seluas 36 Ha. Dengan ekspansi sebesar itu PT JICT direncanakkan mampu menghandle petikemas sebanyak 3.2 juta TEUs setahun. Padahal jumlah petikemas yang keluar masuk Tanjung Priok hanya sekitar 3 juta TEUs, hal ini berarti bahwa di Tanjung Priok cukup satu terminal Petikemas saja, yaitu PT JICT yang lain silahkan mati saja.

8 Tanggapan

  1. bagus artikelnya..ditunggu jilid 2 nya..mudah2an ini bukan sekedar flashback..bukan sekedar cerita di masa lalu..semua yang terlibat langsung maupun tdk langsung thdp tpk koja sama-2 punya komitmen yang senada visi yang sama utk tetap mempertahankan dan memajukan tpk koja tercinta..ini menyangkut hajat hidup orang banyak..

  2. Bagus nih artikel nya….

  3. maaf gue lagi males baca.

  4. Semoga Para Pemimpin (Bangsa Indonesia) ini Kembali ke Jalan Yang Benar Jalan Yang diRidloi Alloh SWT, TAPI apakah mereka mau kembali (Tubuu ilalloh…) ? Hanya mereka yang memiliki hati nurani dan Keimanan-lah yang akan peduli terhadap nasib kaum (karyawan/i dilingkungan TPK KOJA). Mutiara akan kembali bersinar jika kita pandai merawat dan menjaga dari ASSET BANGSA INI yang seluruh rakyat Indonesia akan bangga bahwa mereka memilki TPK yang bisa memberikan sumbangsih – berkontribusi terhadap bangsa dan negara yang tercinta ini. BRAVO SP TPK KOJA…

  5. adakan aja gerakan buruh serentak seperti di AP 1
    biar yg terlibat di kandangin

  6. kayak..dirut pelindo saefuddin itu dah pantas di kandangin…termasuk yg masih menjabat sekarang..
    jangan makan sendiri lah…bagi2 ama anak buah..

  7. Rasa in lho……makanya jadi SP jangan celamitan. Orang aneh….luh

  8. Waaah..nyang bgini nih..nyang bikin bangkrut negara! Udeh buruan jadiin nyang bener tuh anak!! Jangan cuma cari duit doank. Namanya juga anak, kalo “babe nya bener nantinya sianak jadi lebih bener, nah kalo babe nya ga bener? Ya pantes di protes, dipertanyakan & di perjelas status ntu anak” bener ga bang?!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: