MENIMBANG KE”LEGAL”AN TANTIEM DIREKSI TPK KOJA

Menyusul kontroversi seputar pemberian tantiem kepada direksi TPK Koja yang tersamar dengan nama  ‘Penghargaan atas Pengelolaan TPK Koja’ maka ada baiknya kita telusuri aspek legalitasnya. Ada 3 aspek yang dapat dipergunakan untuk menimbangkan suatu hal bisa dikatakan legal atau tidak.

Pertama, aspek formal. Aspek formal tercapai apabila syarat syarat administrasi terpenuhi. Syarat-syarat administrasi dibuat biasanya untuk mengatur dan mendokumentasikan persetujuan para pemegang otoritas yang berkepentingan . Ukuran kelegalan ditentukan oleh ada atau tidaknya bukti persetujuan sang pemegang otoritas. Untuk kasus ini maka Direktur Utama PT.(Persero) Pelindo II dan Presiden Direktur PT. Ocean Terminal Petikemas adalah para pemegang otoritas. Dalam hal ini kasus pemberian penghargaan atas pengelolaan TPK Koja  (baca tantiem) kepada Managemen atau Direksi adalah ‘legal’ karena konon disetujui oleh pemegang otoritas dalam sebuah RUPS pada bulan Desember 2006. Keabsyahan ini tertuang dalam Surat Keputusan Bersama Direksi PT. (Persero) Pelindo II dan Direksi PT. Ocean Terminal Petikemas dengan No. HK.56/4/9/PII 07 dan 010/SKB OTP/IX/07 tanggal 14 September 2007. Sekilas memang tampaknya sah-sah saja tetapi marilah tengok lebih jauh. RUPS TPK Koja adalah rapat umum yang dihadiri oleh para pemilik yang diwakili oleh Direksi PT.(Persero) Pelindo II dan Direksi PT. Ocean Terminal Petikemas dengan Managemen TPK Koja. Pada RUPS bulan desember 2006 yang membahas RKAP tahun 2007, Managemen TPK koja yang diwakili General Manager saat itu mengusulkan pemberian ‘tantiem’ yang akhirnya disetujui  dengan sebutan penghargaan atas pengelolaan TPK Koja yang besarnya adalah 1% dari laba bersih setelah dipotong pajak kepada Managemen  dan Dewan Pengawas TPK Koja. Hanya saja Dewan Pengawas ini hampir seluruh anggotanya adalah para direksi dari kedua pemilik yang ikut memutuskan dalam RUPS tadi. Di sinilah letak masalahnya,para direksi yang menyetujui pemberian tantiem tersebut sebagian besar sekaligus sebagai penerima bagian tantiem dalam kedudukannya sebagai anggota Dewan Pengawas TPK Koja. Apa tidak mungkin ada konflik interest dalam hal ini atau patut diduga terdapat ada ’kongkalikong’ antara managemen Koja yang mengusulkan pemberian tantiem dengan direksi yang menyetujuinya. Dengan adanya fakta tadi keabsahan secara administratif yang ada masih perlu dipertanyakan mengingat proses terjadinya keputusan patut diduga ada motif yang tidak benar.

Kedua,aspek rasionalitas. Manusia dikaruniai akal untuk berpikir dan menilai seluruh kejadian yang ada disekelilingnya.  Segala sesuatu yang bisa diterima dengan akal sehat berarti logis dan bisa dikatakan mempunyai kebenaran  rasional. Dengan demikian logika manusia bisa dipakai untuk mengukur sebuah keputusan atau ketentuan. Sebuah keputusan atau ketentuan yang tidak sesuai dengan logika berarti keputusan tersebut tidak benar. Demikian pula dengan kasus pemberian ’tantiem’ kepada managemen dan Dewan Pengawas TPK Koja perlu kita nilai logis atau tidak. TPK Koja sudah beroperasi sejak sepuluh tahun yang lalu dan selama itu pula produksi selalu menunjukan peningkatan dari tahun ke tahun.Prestasi tersebut diraih dengan kerja keras dari seluruh karyawan yang sebagian besar bergabung pada awal TPK Koja berdiri. Pengalaman dan keahlian para karyawan sudah tidak diragukan lagi.Kegiatan operasionasl sudah tertata dengan baik dan berjalan dengan sistem yang sudah mapan sehingga bisa dikatakan Koja sudah running well. Tingkat produksi sangat tergantung pada arus petikemas yang mengalir ke Tanjung Priok. Pilihan pengguna jasa tidak banyak sehingga TPK Koja dengan segala keunggulannya mempunyai opportunity yang cukup besar untuk menangkap pasar yang ada. Dengan kondisi seperti itu performansi TPK Koja sangat ditentukan oleh kinerja para karyawannya sebagai sebuah tim. Peran kolektif karyawan dan situasi pasar yang lebih dominan dari pada peran perorangan. Keberadaan Managemen hanya sebatas menjalankan  policy pemilik dan menjaga segala sesuatu sesuai dengan prosedurnya. Tidak ada keputusan besar atau policy yang bisa diambil oleh managemen Koja walau sekedar menaikkan 100 ribu tunjangan tranport karyawannya. Dengan adanya fakta tadi sangatlah tidak logis apabila Managemen Koja mendapat perlakuan yang istemewa dari kedua Pemilik dengan memberinya ’tantiem’ segala. Untuk peran yang mana ’tantiem’ itu diberikan? Jelas ini sangat menusuk rasa keadilan seluruh karyawan. Karyawanlah yang membangun,membesarkan dan menjaga TPK Koja dari nol tetapi kenapa pemilik hanya mengutamakan managemen. Ini bukan kecemburuan! Tetapi rasa keadilan yang tercabik cabik. Karyawan yang berkeringat segelintir orang yang berpesta. Satu hal yang paling meyakitkan bagi karyawan adalah ditolaknya tuntutan formula bonus produksi tahunan yang mendasarkan pada prosentase dari laba bersih tahunan (angka yang pernah diajukan adalah 2.5 %) sejak tahun 2002. Tetapi begitu Managemen Koja menuntut untuk dirinya dengan sebutan ’tantiem’ yang besarannya prosentase(tuntutan 2.5 % dipenuhi 1 %) dari laba bersih dengan serta merta diterima. Bayangkan 2.5 % untuk 500 karyawan ditolak tetapi 1 % untuk 13 orang dipenuhi.

Ketiga,aspek moralitas. Moralitas biasanya bersumber kepada nilai nilai ketuhanan. Untuk menjaga keseimbangan dimuka bumi Tuhan turun dengan nilai nilai yang harus menjadi panduan manusia dalam segala perilakunya. Mengesampingkan nilai ini berarti meninggalkan hukum tuhan dan biasanya bencana akan terjadi. TPK Koja adalah perusahaan publik karena ada share kepemilikan PT.(Persero) Pelindo II sebagai salah BUMN yang berarti milik seluruh rakyat Indonesia. Memberikan sesuatu yang bukan haknya adalah pelanggaran. Sudah sering kita saksikan praktek praktek gratifikasi di negeri ini dalam segala modusnya yang ujung ujungnya merugikan rakyat banyak. Padahal keuntungan yang diperoleh BUMN BUMN di negeri ini harus digunakan  sebesar besarnya untuk kemakmuran rakyat sesuai dengan amanah UUD 1945 pasal 33. Tingkat legalitas formal bisa jadi terpenuhi selama secara administratif syarat syaratnya ada karena memang semuanya prosedur yang dibuat manusia tetapi aspek moralitas sebuah keputusan bisa kita ukur dengan hati nurani. Tuhan telah mengkaruniakan nilai nilai moral itu di hati nurani setiap manusia. Keputusan atau ketentuan yang sesuai dengan nurani setiap orang lah yang layak dilaksanakan karena pasti tidak akan merugikan banyak pihak.

 ILUSTRASI PERBANDINGAN  ’TANTIEM’ MANAGEMEN TPK KOJA DENGAN BONUS UNTUK KARYAWAN TPK KOJA

Tahun 2006 (diterima 2007)

MANAJEMEN

KARYAWAN

Tantiem                   2,1 M Bonus                    6,9 M   
Dibagikan untuk   12 orang Dibagikan untuk 509 org
(5 Managemen + 7 Dewan Pengawas )  
   

Tahun  2007 (diterimakan 2008)

Estimasi                 3,1 M Estimasi Bonus     9,4 M
Dibagikan untuk  13 orang Dibagikan untuk  509 org
( 6 Direksi + 7 Dewan Pengawas)  

Keterangan : sejak tgl 26 Februari 2007 Management TPK Koja berubah tittle dari GM menjadi Dirut dan DGM menjadi Direktur (4 DGM menjadi 5 Direktur)

4 Tanggapan

  1. Alhamdulillah, sudah ada ilustrasi angkanya tinggal realisasinya kapan donk?. mudah2an ilustrasi tersebut akan lebih bijak jika semua pihak mengedepankan asas keadilan dalam menempatkan porsi yang memang sudah menjadi haknya masing-masing berdasar perhitungan yang akurat credible & transparan.
    Selamat berjuang SP TPKK mari kita kawal anugerah ini demi masa depan seluruh keluarga karyawan/i – manajemen KSO TPK KOJA.

    JANGAN LUPA ZAKAT INFAQ DAN SHODAQOHnya mas,mbak…

  2. Mas, urusan LEGALITAS TANTIEM DIREKSI TPK KOJA mari kita bertanya kepada Ahlinya yaitu pihak Advokasi Hukum yang mudah-mudahan mereka akan menjelaskan kepada kita tentang keabsahan TANTIEM tsb, diantara kita ada divisi legal officer yang mudah-mudahan ilmunya bisa diamalkan untuk pencerahan kepada kita semua tentang APA ITU dan APA INI serta APA-APA-AN tuh dengan ini semua….!!!??? kayak TTS saja yah kita bekerja disini… yang saya tahu selama ini. memang segala sesuatu pekerjaan di KSO TPK KOJA senantiasa selalu berada di bawah keputusan …. PEMBENTUKAN TIM… TIM inilah TIM itulah … kayak Nasi TIM aja.. yah PUSSSING Dech….

  3. terlepas dari legal atau tidaknya tantiem buat Direksi, kok Saya berpikirnya adalah bahwa KSO TPK Koja itu kan bukan hanya dikerjakan dan dikelola oleh 13 orang (Direksi) saja, kenyataannya adalah KSO TPK Koja juga dikerjakan dan dikelola oleh seluruh Karyawan dan Direksinya (ya 13 orang, ya juga 509 orang) …. jadi menurut Saya … Mbok Ya !!! mengertilah yang 13 orang itu …. jangan egois dan individualis … coba gunakan akal sehat dan hati yang jernih … bahwa keberadaan Direksi karena ada Karyawan … artinya Kemajuan KSO TPK Koja juga hasil kerja keras Karyawan yang juga WAJIB menikmati hasilnya secara MANUSIAWI …!!!

  4. Buat kawan-kawan di SP TPK Koja…. tetap Semangat, jangan takut untuk melawan kedzaliman, … yakinlah setelah kesulitan akan ada kemudahan … yang penting tetap jaga soliditas perjuangan dan jangan lupa SIDURE utk kemajuan dan kejayaan SP TPK Koja …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: