Kena PHK, Manajer Tidak Dapat Pesangon?

JAKARTA (Suara Karya): Kalangan manajer atau pegawai golongan atas tidak akan menerima pesangon manakala mereka terkena tindak pemutusan hubungan kerja (PHK). Ini karena Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) tentang Pesangon menggariskan bahwa kompensasi PHK atau pesangon hanya diberikan kepada pekerja/karyawan golongan bawah atau dengan tingkat upah di bawah Rp 5 juta.

Karena itu, ekonom Faisal Basri menilai bahwa RPP Pesangon ini diskriminatif serta bertentangan dengan Pasal 28 UUD 1945 tentang jaminan sosial maupun dengan UU Ketenagakerjaan yang menyebutkan bahwa pekerja/karyawan adalah semua orang yang menerima gaji/upah dari pemberi kerja.

 

“Jadi, RPP Pesangon harus disikapi. Bila konsepnya seperti saat ini, harus kita tolak. Kalau dibiarkan, maka pemerintah akan banyak menerbitkan PP atau perpres lain yang juga diskriminatif serta melanggar HAM dan undang-undang,” tutur Faisal kepada Suara Karya saat ditemui di acara pernyataan sikap Organisasi Pekerja Seluruh Indonesia (OPSI) mengenai RPP Pesangon, kemarin, di Jakarta.

 

Faisal juga menilai, RPP Pesangon hanya akan dijadikan instrumen oleh pengusaha dalam memuluskan rencana PHK secara besar-besaran. Ini karena konsep RPP Pesangon membuat PHK bukan lagi beban pengusaha.

 

Menurut Faisal, dengan RPP Pesangon, pengusaha dapat melimpahkan beban uang pesangon dan kompensasi PHK pada badan penyelenggara jaminan dana pesangon yang kemungkinan besar adalah PT Jamsostek.

 

“Pengusaha kelihatannya mengincar dana taktis yang dimiliki Jamsostek (iuran pekerja peserta program jamsostek) untuk membayar pesangon saat mereka melakukan PHK. Dana taktis di Jamsostek kini mencapai Rp 24 triliun. Itu tampaknya akan dibobol dengan menggunakan mekanisme PHK besar-besaran atas nama efisiensi,” kata Faisal.

 

Sementara itu, Presiden OPSI Yanuar Rizki mengatakan, kalangan pengusaha selama ini memang tidak mempedulikan masalah kesejahteraan dan jaminan sosial pekerja atau karyawan. Melalui RPP Pesangon, pengusaha berharap dana cadangan teknis di Jamsostek sebesar Rp 24 triliun bisa ke luar untuk membayar pesangon PHK.

 

“Karena itu, bahkan pengusaha yang selama ini tidak mengikutsertakan karyawan atau pekerja ke program jamsostek, jadi ikut program tersebut. Mereka ikut program jamsostek selama dua atau tiga bulan. Setelah itu mereka melakukan PHK massal, sehingga Jamsostek berkewajiban membayar klaim PHK,” tutur Yanuar.

 

Menurut Yanuar, ketentuan dalam RPP Pesangon menunjukkan pemerintah diskriminatif terhadap pekerja. Padahal karyawan atau pekerja yang bergaji Rp 6 juta ke atas adalah penyumbang terbesar pajak. Karena itu, RPP Pesangon melawan hukum dan melanggar hak asasi manusia (HAM).

 

“Tapi dalam sosialisasi RPP Pesangon, pemerintah selalu mengatakan bahwa PP Pesangon untuk melindungi karyawan serta menjamin pekerja golongan bawah dengan gaji di bawah Rp 5 juta per bulan ketika terkena PHK. Pemerintah juga mengatakan bahwa karyawan yang bergaji di atas Rp 6 juta per bulan menghabiskan pesangon karyawan golongan rendah. Ini kan tidak benar,” tutur Yanuar.

 

Karena itu, OPSI meminta pemerintah membatalkan penerbitan RPP Pesangon dan kembali menerapkan Pasal 156 UU Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, karena memberikan kepastian bahwa pesangon diberikan kepada seluruh pekerja. Selain itu, RPP Pesangon jangan dijadikan media bagi pengusaha untuk “merampok” dana cadangan teknis di Jamsostek karena dana tersebut adalah iuran jaminan hari tua (JHT) dan merupakan hak pekerja peserta program jamsostek.

 

OPSI juga meminta pengusaha untuk mencari titik temu, bukan titik perbedaan terkait jaminan kepada karyawan ketika di-PHK di luar masalah RPP Pesangon dan PT Jamsostek. “Penerbitan PP Pesangon hanya menimbulkan persoalan hukum dan sosial, bahkan konflik baru. Sebagai gantinya, harus ada arsitektur sistem jaminan sosial yang utuh,” ujar Yanuar.

 

Di tempat terpisah, Mennakertrans Erman Suparno mengatakan, perusahaan diwajibkan memberi pesangon bagi pekerja yang memperoleh gaji di bawah Rp 5 juta per bulan. Sementara bagi pekerja yang bergaji di atas Rp 5 juta per bulan, pemberian pesangon diserahkan kepada kebijakan perusahaan terkait.

 

Khusus untuk pekerja dengan gaji di bawah Rp 5 juta, Erman menyebut jumlah pesangon adalah lima kali pendapatan tidak kena pajak (PTKP). “Kalau lima kali PTKP, berarti Rp 5,5 juta,” katanya.

4 Tanggapan

  1. tuh kan bos…pemilik aja sudah dapet lampu kuning menjelang hijau dari pemerintah agar anda-anda di sunat hak-haknya. pasti deh hukum “karma” berlaku. maka dealkan saja tuntutan kami..kan ikut merasakan pula hasilnya nanti oke..oke..

  2. Sebagai renungan buat teman2x sebagai karyawan

    Rahasia Umur SAPI, MONYET, ANJING dan MANUSIA

    Di awal zaman, Tuhan menciptakan seekor sapi. Beliau berkata kepada sang
    sapi “Hari ini kuciptakan kau! Sebagai sapi engkau harus pergi ke padang
    rumput. Kau harus bekerja di bawah terik matahari sepanjang hari. Kutetapkan
    umurmu sekitar 50 tahun.” Sang Sapi keberatan “Kehidupanku akan sangat berat
    selama 50 tahun. Kiranya 20 tahun cukuplah buatku. Kukembalikan kepadamu
    yang 30 tahun.” Maka setujulah Tuhan.

    Di hari kedua, Tuhan menciptakan monyet. “Hai monyet, hiburlah manusia. Aku
    berikan kau umur 20 tahun!” Sang monyet menjawab “What? Menghibur mereka dan
    membuat mereka tertawa? 10 tahun cukuplah. Kukembalikan 10 tahun padamu”
    Maka setujulah Tuhan.

    Di hari ketiga, Tuhan menciptakan anjing. “Apa yang harus kau lakukan adalah
    menjaga pintu rumah majikanmu. Setiap orang mendekat kau harus
    menggongongnya. Untuk itu kuberikan hidupmu selama 20 tahun!” Sang anjing
    menolak : “Menjaga pintu sepanjang hari selama 20 tahun ? No way.!
    Kukembalikan 10 tahun padamu”. Maka setujulah Tuhan.

    Di hari keempat, Tuhan menciptakan manusia. Sabda Tuhan: “Tugasmu adalah
    makan, tidur, dan bersenang-senang. Inilah kehidupan. Kau akan menikmatinya.
    Akan kuberikan engkau umur sepanjang 25 tahun!” Sang manusia keberatan,
    katanya “Menikmati kehidupan selama 25 tahun? Itu terlalu pendek Tuhan.
    Let’s make a deal. Karena sapi mengembalikan 30 tahun usianya, lalu anjing
    mengembalikan 10 tahun, dan monyet mengembalikan 10 tahun usianya padamu,
    berikanlah semuanya itu padaku. Semua itu akan menambah masa hidupku menjadi
    75 tahun. Setuju ?” Maka setujulah Tuhan.

    AKIBATNYA…………………………

    Pada 25 tahun pertama kehidupan sebagai manusia dijalankan (kita makan,
    tidur dan bersenang-senang) 30 tahun berikutnya menjalankan kehidupan
    layaknya seekor sapi (kita harus bekerja keras sepanjang hari untuk menopang
    keluarga kita). 10 tahun kemudian kita menghibur dan membuat cucu kita
    tertawa dengan berperan sebagai monyet yang menghibur. Dan 10 tahun
    berikutnya kita tinggal dirumah, duduk didepan pintu, dan menggonggong
    kepada orang yang lewat……

  3. Manager juga insan yang sama seperti kita, beliau2pun butuh akan perlindungan, kesejahteraan dan fasilitas2 yang lebih dari bawahannya… Beliaulah yang telah memberi contoh bagaimana hidup dan bersikap dalam posisi sama2 sebagai Pegawai/Pekerja. Suksesnya perusahaan dalam mencapai target maka itulah sukses Manager bisa menterjemahkan visi misi perusahaan thd bawahannya. Kami sebagai bwahan akan memberikan apresiasi yang tinggi terhadap para Manager tsb (komitmen, kedisiplinan, loyalitas dan tanggungjawab) TAPI JIKA HANYA INGIN SUKSES SENDIRI (DAPAT FASILITAS DAN KESEJAHTERAAN DENGAN MENGABAIKAN HAK BAWAHANNYA) MAKA TUNGGULAH … INGATLAH DI KANTOR BELIAU ADALAH ATASAN KITA TAPI DILUAR SANA IA MANUSIA SAMA DISISI TUHAN YANG MEMBEDAKAN HANYA TAQWANYA. Hidup SP TPK KOJA… Kami ada karena Kami Peduli terhadap sesama untuk maju bersama meraih kebahagiaan & kesuksesan yang lebih berarti bagi Nusa Bangsa & Agama.

  4. Bagaimana dengan tunjangan masa kerja, apakah manajer juga dibedakan dari karyawan staff?
    Jonathan Haryanto

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: